Bonbonbox’s Blog

Release from Reader’s Digest Indonesia

Posted on: May 18, 2009

Jet Li dinobatkan sebagai Asian of the Year 2009 oleh Reader’s Digest untuk aksi kemanusiaan dalam membantu korban bencana alam dan mereka yang kurang beruntung.

(28 Desember 2008, Jakarta) Jet Li, memakai topi biru gelap yang sedikit menutupi wajahnya, membantu mengeluarkan kotak-kotak kardus berisi susu bubuk, pakaian, obat-obatan, tenda dan berbagai perlengkapan darurat lain dari dalam truk. Dia mengenakan kaus putih berlogo One Foundation, seperti kebanyakan orang-orang yang hari itu datang untuk memberikan bantuan kepada masyarakat Sichuan. Hari itu, dia hanyalah seorang sukarelawan biasa.

Li, yang terkenal berkat film-film kungfunya yang memukau jutaan orang di dunia, telah dipilih oleh para editor Reader’s Digest Asia sebagai Asian of the Year 2009 karena usaha kemanusiaannya untuk membantu ribuan korban bencana alam dan mereka yang kurang beruntung.

Bintang film yang rendah hati ini, tidak melakukannya dengan niat mendapatkan penghargaan atau pun untuk kepuasan pribadi. Li menolak diadakan acara penghargaan untuk dirinya. Malahan, dia berencana menyumbangkan biaya acara tersebut sebesar 5.000 dolar AS untuk kegiatan amal.

“Aksi Jet Li di dunia nyata memberi inspirasi kepada para penduduk dunia dari berbagai lapisan untuk membantu siapa saja yang membutuhkan. Inilah refleksi kepedulian masyarakat dunia yang semakin meningkat di tengah berbagai tantangan kehidupan yang kian dinamis,” kata Widarti Gunawan, Pemimpin Redaksi Reader’s Digest Indonesia

Asian of the Year pilihan para editor majalah Reader’s Digest di Asia, adalah seseorang yang bisa menggambarkan nilai-nilai kemanusiaan dan tradisi masyarakat Asia. Nama Li kini sejajar dengan Dr. Sanduk Ruit, dokter mata dari Nepal yang telah membantu ribuan orang Asia bisa melihat kembali, yang dianugerahi penghargaan yang sama pada tahun 2007. Dan pada tahun 2008, ahli farmasi dari Thailand, Krisana Kraisintu, juga dinobatkan sebagai Asian of the Year karena kerja kerasnya yang tak mengenal lelah dalam membantu penderita AIDS dan malaria.

Semua ini dimulai saat peristiwa tsunami 2004, ketika Li sedang berlibur di kepulauan Maladewa bersama istrinya Nina, kedua putrinya yang masih kecil, dan seorang perawat anak. Keluarga Li berhasil terhindar dari malapetaka itu, namun hati bintang The Forbidden Kingdom dan The Mummy: Tomb of the Dragon Emperor itu telah terpanggil untuk melakukan sesuatu.

2 Januari 2005, Li mengumumkan bahwa dia akan menyumbangkan 500.000 yuan untuk para korban tsunami, dan menginventasikan 500.000 yuan lagi untuk pembangunan sebuah organisasi amal. Akhirnya, dibutuhkan lebih dari dua tahun untuk mendirikan One Foundation, karena Li masih terikat kontrak untuk menyelesaikan beberapa film lagi. Namun yang lebih penting, dia membutuhkan waktu untuk belajar, melakukan penelitian dan menyiapkan segalanya.

Dia berdiskusi dengan berbagai akademisi dari seluruh dunia dan meluangkan waktu untuk belajar di berbagai organisasi amal seperti Rockefeller Foundation, tentang bagaimana caranya membangun sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang sukses.

Akhirnya, Red Cross Jet Li One Foundation diluncurkan bulan April 2007 di Cina. Walaupun organisasinya beroperasi independen di luar kegiatan palang merah, hubungan di antara mereka membantu Li menggerakkan penarikan sumbangan dari publik di Cina, dan untuk mendapatkan gambaran akurat mengenai detail seputar bencana tsunami itu.

Li mempunyai visi mengenai sebuah keluarga masyarakat global yang bergandengan satu sama lain. Karena itulah, dia berencana mengumpulkan satu yuan (15 sen) dari setiap orang setiap bulannya, dimulai dari Cina. Dia membayangkannya sebagai sebuah keluarga besar yang saling membantu.

Organisasinya telah mengumpulkan hampir 16 juta dolar hanya dalam 18 bulan, membuktikan betapa sederhana namun tepat idenya. Bersama, mereka membantu korban gempa bumi di Yunnan Puer dan badai salju di Cina selatan pada awal 2008.

Karena One Foundation telah membangun hubungan erat dengan partner-partnernya seperti para maskapal penerbangan, mereka bisa bertindak cepat dalam menyalurkan bantuan, yang sangat penting apabila sebuah bencana alam terjadi.

“Menurutku, sering sekali situasi seperti ini terjadi: Suatu bencana terjadi, orang-orang meninggal, publik melihatnya di media dan baru menyumbang. Saat uang Anda akhirnya sampai ke tangan yang membutuhkan, beberapa hari telah lewat sejak kejadian dan Anda juga tidak yakin apakah sumbangan Anda sampai ke mereka,” kata Li. “Aku ingin kami sudah memiliki persiapan. Apabila suatu bencana terjadi, kami sudah mempunyai sedikit dana yang bisa langsung disumbangkan.”

Definisi Li untuk gerak cepat bisa dilihat saat gempa bumi di Sichuan. Dia mendengar mengenai kejadian itu pada tanggal 12 Mei tahun lalu. Dalam tujuh hari saja, organisasinya berhasil mengumpulkan 7.35 juta dolar untuk perlengkapan darurat dan rekonstruksi kota.

Li mempunyai aspirasi yang besar untuk One Foundation, dan telah mulai bergerak keluar Cina. Mereka telah mempunyai kantor perwakilan di Los Angeles, Hong Kong dan Singapura, serta berencana membangun satu lagi di Taiwan. Di setiap negara, fokus operasi akan sedikit berbeda.

“Agar usaha ini bisa terus berkesinambungan, masyarakat harus mepunyai sebuah keyakinan. Tujuan utama organisasi ini adalah mengembangkan budaya berbagi, menjadi seorang filantropis setiap hari dalam hidupmu, dan menyadari bahwa hal ini adalah tanggung jawab setiap orang.”

“Setiap orang perlu memberikan sesuatu kembali ke masyarakat. Aku tidak meminta uang Anda. Aku meminta hati Anda.”

Kisah Li telah diterbitkan di setiap majalah Reader’s Digest edisi Asia (Asia berbahasa Inggris, India berbahasa Inggris, Cina, Thailand, Korea dan Indonesia) pada edisi Januari 2009 ini untuk menginspirasi jutaan pembaca di Asia. Lihat juga rekaman wawancara Jet Li di www.rdasia.com.


Tentang Reader’s Digest:

The Reader’s Digest Association, Inc. adalah sebuah media multi-brand global dan perusahaan marketing yang bertujuan untuk mengedukasi, menghibur dan menghubungkan pembaca dengan dunia. Dengan kantor di 45 negara, kami memasarkan buku, majalah, dan produk musik serta video pendidikan yang mencapai basis pelanggan di lebih dari 100 juta rumah tangga di 79 negara. Kami menerbitkan 92 majalah, termasuk Reader’s Digest, majalah dengan sirkulasi terbesar di Asia dan dunia, dalam 50 edisi. Kami mengoperasikan 65 situs yang dikunjungi 18 juta orang tiap bulan, dan telah menjual sekitar 68 juta buku, musik, dan produk video di seluruh dunia tiap tahunnya. Kantor pusat kami di Pleasantville, New York, Amerika Serikat.

Di Indonesia, Reader’s Digest Indonesia diterbitkan oleh femina Group, perusahaan penerbitan ternama yang telah menerbitkan majalah-majalah lokal maupun internasional seperti Femina, GADIS, Ayahbunda, dewi, seventeen, Cita Cinta, Fit, Pesona, Men’s Health, Parenting, Estetica, Komik 99, Playhouse Disney dan Best Life.

Untuk Informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi:

Risang B Dhananto

Group Marketing Manager

Tel. 021 5253816 ext.3260

HP 085885190198

Email risang.dhananto@feminagroup.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


  • None
  • siska: congratulations for your sister paru.... hebat, lo bisa menghandle semua keribetan yang terjadi, hehehe...bravo!!
  • bonbonbox: traaangkyuuuuh ciaaaat, hehehehe biasa jg loo pk legging, jgn kaya wanita karier kebanyakaan deh pake rok miniii muluu... hehehehehe
  • gricia: you'll be more and more success paru!! soal motor g kepikiran pengen belajar yang matic jg dh..tp gk bisa pake rok donk ke kantor.hahaha

Categories

%d bloggers like this: